Selasa, 27 Agustus 2019

How To Make White Roux


How To Make Mayonaise




Local Food 6



LAPIS LEGIT




Lapis legit batik di Indonesia
Lapis legit atau spekuk (bahasa Belanda: Spekkoek) adalah salah satu jenis kue basah tradisional dari Indonesia. Kue ini pertama kali dikembangkan pada masa kolonial Belanda di Indonesia yang terinspirasi dari kue lapis Eropa.Lapis legit dibuat dari berbagai macam rempah-rempah yang memang sangat disukai oleh orang-orang Eropa, di antaranya adalah kapulaga, kayu manis, cengkih, bunga pala, dan adas manis sehingga rasanya sangat khas kaya akan aroma rempah. Kue berbahan dasar kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega/margarin ini memiliki cita rasa yang manis dengan tekstur yang lembut namun kokoh. Adonan kue dipanggang dalam oven secara bertahap hingga membentuk lapisan-lapisan yang umumnya berjumlah 18 lapisan atau lebih. Karena banyaknya lapisan pada lapis legit, kue ini dikenal juga dengan sebutan kue seribu lapis.

Di Indonesia kue ini sangat populer. Lapis legit biasanya disajikan pada acara-acara tertentu dan hari-hari raya, seperti Imlek, Lebaran, dan Natal.Kue ini juga disajikan sebagai hadiah pada perayaan-perayaan lokal, seperti hari pernikahan dan hari ulang tahun. Di Belanda, irisan kue ini biasanya disajikan sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut dalam jamuan rijsttafel.

Etimologi
Dalam bahasa Belanda, kata spekkoek secara harfiah berarti kue daging babi. Dinamai kue daging babi karena lapisan-lapisan yang terbentuk pada kue ini mirip seperti lemak babi.Nama kue ini dalam bahasa Indonesia adalah lapis legit di mana kata legit berarti manis.

Sejarah
Lapis legit berkembang selama masa kolonial Belanda di Indonesia.Awal mulanya, kue bernama asli spekkoek ini dibawa oleh orang-orang Belanda ke Indonesia. Kue tersebut kemudian mendapat pengaruh dari penduduk lokal. Orang-orang Indonesia memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan lokal termasuk menambahkan rempah-rempah yang disesuaikan dengan lidah mereka.Seiring perkembangannya, kue ini lebih dikenal dengan nama lapis legit karena kue ini memiliki banyak lapisan dengan rasa yang sangat manis.

Di kalangan orang-orang Tionghoa, lapis legit memiliki sejarah yang sangat mengakar. Lapis legit menjadi sajian wajib pada perayaan Tahun Baru Imlek. Mereka percaya jika semakin banyak lapisan pada kue tersebut maka semakin berlipat-lipat rezeki yang akan didapatkan.

Pengolahan
Lapis legit umumnya memiliki 18 lapisan atau lebih.Kue ini berbahan dasar kuning telur, mentega, tepung terigu, dan gula. Kuning telur yang digunakan umumnya diambil dari 30 butir atau lebih telur utuh.Loyang yang digunakan biasanya berbentuk persegi dengan ukuran 18 cm x 18 cm atau 20 cm x 20 cm. Oven yang digunakan adalah oven gas atau oven listrik.

Satu lapisan lapis legit dibuat dengan menuangkan sedikit adonan ke dalam loyang, kemudian loyang tersebut dimasukkan ke dalam oven dan dipanggang dengan pusat api yang berada di atas hingga keemasan. Loyang kemudian dikeluarkan dan proses diulang kembali hingga adonan telah habis.

Di Indonesia, ada banyak jenis-jenis lapis legit, seperti maksuba, lapis legit pontianak, lapis legit bangka, lapis legit lampung, dan legit gulung dengan variasi rasa keju cheddar, buah prun, pandan, atau cokelat. Rasa pandan dan cokelat pada lapis legit biasanya didapatkan dengan mencampurkan pasta kue. Beberapa lapis legit ada yang dibuat tanpa menambahkan rempah-rempah dan tepung terigu. Beberapa lapis legit juga ada yang dibuat dengan menambahkan banyak mentega dan susu.


DODOL



Dodol adalah panganan manis dari Indonesia. Proses pembuatan dodol bermutu tinggi memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan keahlian khusus. Bahan utama membuat dodol adalah santan kelapa, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan garam. Bahan tambahan pada dodol menentukan rasa. Dodol dari durian disebut dodol durian, dodol dari sirsak disebut dodol sirsak, dodol dari nangka disebut dodol nangka, dodol dari jahe disebut dodol jahe. Dodol khas Garut disebut dodol Garut. Dodol khas Kandangan, Kalimantan Selatan disebut dodol Kandangan. Dodol durian juga disebut lempok. Bila hanya disebut dodol saja, maka dodol tersebut hanya dibuat dari tepung ketan, gula merah, dan santan.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dodol disebut jenang. Jenang lebih lembek daripada dodol, lebih basah berminyak, dan umumnya dijual dalam bentuk lempengan atau plastikan.Jenang diiris sesuai permintaan pembeli. Dodol lebih kering (kesat), dipotong dengan ukuran 2 cm×1 cm×3 cm.Pembungkus dodol berupa plastik atau kertas roti, dan dijual dalam jumlah besar di dalam kardus.Saat ini dodol mulai diminati konsumen dari negara lain, antara lain Belanda, Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia.

Cara pembuatan
Dalam tahap pembuatannya, bahan-bahan dicampur bersama dalam kuali yang besar dan dimasak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan, karena jika dibiarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak. Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus diaduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih membutuhkan waktu 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi cokelat pekat. Pada saat itu juga campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.
Untuk selanjutnya, dodol harus diaduk agar gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut matang dan siap untuk diangkat. Yang terakhir, dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna coklat tua, berkilat dan pekat. Setelah didinginkan, dodol tersebut bisa dipotong-potong dan dimakan. Dodol untuk dijual, dipotong-potong atau dibentuk dalam ukuran kecil sebelum dibungkus dengan kertas minyak atau plastik. Biasanya dodol dihidangkan kepada para tamu di hari-hari tertentu seperti hari-hari perayaan besar.

Some Local Food


EMPEK-EMPEK




Pempek atau empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari daging ikan yang digiling lembut dan tepung kanji (secara salah kaprah sering disebut sebagai "tepung sagu"), serta beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih yang dihaluskan, penyedap rasa dan garam. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa penganan pempek pusatnya adalah di Palembang karena hampir semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Pempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di seantero Kota Palembang; ada yang menjual di restoran, ada yang di pinggir jalan, dan juga ada yang dipikul. Tahun 1980-an, penjual biasa memikul satu keranjang penuh pempek sambil berjalan kaki berkeliling menjajakan makanannya.

Sejarah
Pempek kapal selam dan keriting disirami kuah cuko.
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Tionghoa ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan apek atau pek-pek, yaitu sebutan untuk paman atau lelaki tua Tionghoa.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.
Namun, cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16, sementara bangsa Tionghoa telah menghuni Palembang sekurang-kurangnya semenjak masa Sriwijaya. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Dalam pada itu Sultan Mahmud Badaruddin baru dilahirkan tahun 1767. Walaupun begitu memang sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Tionghoa seperti bakso ikan, kekian atau pun ngohiang.

Bahan-bahan
Adonan pempek
Pada awalnya pempek dibuat dari daging ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut lalu diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.
Pada perkembangan selanjutnya, beberapa jenis ikan sungai lainnya juga dapat digunakan, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Bahkan ada juga yang menggunakan ikan dencis, ikan lele serta ikan tuna putih.
Penyajian pempek ditemani oleh kuah saus berwarna hitam kecokelat-cokelatan, yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, ebi (udang kering), cabai rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar Pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Pelengkap yang lain untuk menyantap penganan khas ini adalah mentimun segar yang diiris dadu dan mie kuning

Jenis-jenis pempek
Pempek Tunu, telah dipanggang dan siap dimakan
Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu pempek yang diisi dengan telur ayam dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (berisi irisan pepaya muda rebus yang sudah ditumis dan dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Dari satu adonan pempek, ada banyak makanan yang bisa dihasilkan, bergantung baik pada komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian. Di antaranya adalah laksan, tekwan, model, celimpungan dan lenggang. Laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan; sedangkan model dan tekwan disajikan dalam kuah berisi kepingan jamur kuping, kepala udang, bengkuang, serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng dan bumbu lainnya. Varian baru juga sudah mulai dibuat orang, misalnya saja kreasi pempek keju, pempek baso sapi, pempek sosis serta pempek lenggang keju yang dipanggang di wajan anti lengket, serta sekarang warga Palembang pun membuat pempek dengan bahan dasar terigu dan nasi sebagai pengganti ikan.

AYAM POP





Ayam pop adalah salah satu hidangan dari daging ayam yang berasal dari Sumatra Barat. Hidangan ini termasuk salah satu hidangan ayam goreng, namun yang membedakan ayam pop dengan ayam goreng lainnya adalah ayam pop memiliki warna yang masih putih pucat ketika selesai dimasak. Ini dikarenakan sebelum digoreng, ayam yang sudah diberi bumbu direbus terlebih dahulu di dalam rebusan air kelapa dan bawang putih yang sudah dicincang, setelah itu ayam baru digoreng sebentar di dalam minyak panas agar matang sempurna dan memperoleh sedikit tekstur renyah. Ayam pop biasanya didampingi dengan samba lado tomat (sambal tomat, terbuat dari cabai giling yang dicampur dengan tomat yang dicincang) dan sayur daun singkong rebus.

Asal-usul
Tidak diketahui secara pasti bagaimana asal-usul ayam pop ini berawal. Namun beberapa sumber mengatakan bahwa hidangan ini berasal dari salah satu restoran di Bukittinggi yaitu Restoran Family Benteng Indah yang telah berdiri sejak tahun 1963. Pada awalnya restoran tersebut hanya menjual ayam goreng kering biasa. Suatu hari ketika pesanan mulai banyak, sang pemilik restoran merebus ayam dalam jumlah banyak dalam santan serta cincangan bawang putih lalu digoreng sebentar agar pelanggan tidak menunggu lama. Sengaja atau tidak, hidangan ayam tersebut kemudian menjadi populer karena bentuknya yang berbeda dari ayam goreng pada umumnya memiliki aroma khas dari air kelapa dan rasa yang lebih gurih. Hidangan ini menjadi favorit warga keturunan Tionghoa di Bukittinggi kala itu karena ayam pop yang berwarna putih pucat terlihat mirip dengan ayam Hainan yang merupakan hidangan ayam rebus khas Tionghoa. Dinamai ayam pop karena pada masa itu, restoran kerap mengadakan pertunjukan musik dan genre musik yang populer saat itu adalah musik pop, jadilah nama ayam pop dipakai hingga sekarang.

Ada juga sumber yang mengatakan bahwa ayam pop mulai populer di tahun 1976. Salah satu restoran populer Sumatra Barat yaitu Simpang Raya lah yang pertama kali mempopulerkan nama ini dengan menyebut hidangan ayam goreng mereka dengan nama ayam pop, sehingga beberapa cabang Simpang Raya (mayoritas di luar Sumatra Barat) menambahkan slogan "Istana Ayam Pop" dan dipatenkan menjadi salah satu hidangan utama di restoran tersebut.

Meskipun banyak versi mengenai asal-usul ayam pop, hingga saat ini mayoritas restoran masakan Sumatra Barat kerap menyajikan ayam pop sebagai salah satu menu mereka. Tidak hanya restoran lokal, beberapa cabang restoran yang buka di luar Sumatra Barat pun menyertakan ayam pop dalam menu restoran sehingga ayam pop pun mulai dikenal secara nasional.

Penyajian
Bumbu ayam pop kebanyakan masih rahasia pada masing-masing restoran, karena tiap restoran memiliki ciri khas masing-masing dalam hidangan ayam popnya. Namun, pada dasarnya, bumbu yang digunakan adalah bawang putih, jahe, dan kemiri yang dihaluskan, kemudian ditumis bersama serai, taburan garam, daun jeruk, atau perasan air jeruk nipis. Setelah jadi, daging ayam dilumuri dengan bumbu lalu direbus menggunakan air kelapa hingga matang. Meskipun sudah matang pasca direbus, ayam kembali digoreng sebentar dalam minyak panas untuk memberikan sedikit tekstur renyah. Tidak disarankan untuk menggoreng ayam terlalu lama karena ayam akan menjadi kering dan kecoklatan. Ayam pop memiliki ciri khas warna yang putih pucat dengan tekstur sedikit renyah namun dagingnya tetap lembut dan beraroma.

Sebagai pendamping, ayam pop disajikan bersama samba lado tomat yang dibuat dari cabai merah, potongan tomat, dan bawang merah yang digiling hingga halus, kemudian ditumis sebentar. Tidak lupa daun singkong yang direbus sebentar menjadi pendamping lainnya yang umum ditemukan dalam hidangan ayam pop di manapun

Local Food 3


COTO MAKASSAR






  Coto makassar atau coto mangkasara adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan (isi perut) sapi yang direbus dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dinikmati dengan ketupat dan "burasa" atau yang biasa dikenal sebagai buras, yakni sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang. Seperti yang telah saya jelaskan di food terminoogi minggu lalu.
  Coto makassar diperkirakan telah ada semenjak masa Kerajaan Gowa di abad ke-16. Dahulu hidangan coto bagian daging sapi sirloin dan tenderloin hanya disajikan untuk disantap oleh keluarga kerajaan. Sementara bagian jeroan disajikan untuk masyarakat kelas bawah atau abdi dalem pengikut kerajaan.
  Saat ini coto mangkasara sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. Masyarakat umum juga menyukai bagian daging sapi atau kerbau yang terletak di bagian punggung (sirloin) itu. Sementara beberapa penjual memberi pilihan daging sapi atau jeroan, atau campuran keduanya, untuk dihidangkan. Sejak bulan November 2008 coto makassar telah dipilih sebagai salah satu menu yang dihidangkan pada penerbangan domestik Garuda Indonesia dari dan ke Makassar.


PALLU KALOA






   Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pallu kaloa berarti memasak dengan menggunakan rempah kaloa, yang merupakan rempah khas Sulawesi Selatan. Kaloa tergolong rempah biji dengan kulit keras berukuran kecil seperti bawang. Bagian yang digunakan untuk meracik sup ikan ini adalah bijinya yang berwarna hitam, tanpa dihancurkan sama sekali, untuk menciptakan cita rasa asam yang khas.
   Kuah sup ini terlihat berwarna kehitaman dan tidak kental. Berhubung tampilan kuahnya mirip menu rawon asal Jawa Timur, tak ayal sebagian warga pendatang di Makassar menyebut pallu kaloa sebagai rawon ikan. Pallu kaloa menjadi salah satu masakan yang paling diburu wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Masyarakat dari kalangan biasa hingga pejabat kerap menjadikan makanan ini sajian utama ketika menjamu tamu. Warung pallu kaloa di Jalan Tentara Pelajar ini sudah hadir sejak era tahun 1970-an.
   peracik pertama Pallu Kaloa bernama H. Wasid asal Kabupaten Pangkep. Dulu ia berjualan pallu kaloa menggunakan gerobak di Jalan Lombok. Menu ini rupanya berhasil menarik perhatian banyak penikmat makanan sehingga pada tahun 2005, H. Wasid memutuskan untuk mengembangkan usahanya dengan membuka warung makan di Pasar Sentral. Lantaran Pasar Sentral sempat mengalami dua kali kebakaran, H. Wasid lantas mengajak anaknya untuk membuka warung di Jalan Tentara Pelajar pada tahun 2008. Warung yang awalnya hanya berukuran 4X6 meter kini telah berkembang menjadi 8X6 meter. Tidak hanya itu, warung pallu kaloa milik H. Wasid kini juga sudah memiliki dua cabang salah satunya dikelola oleh sang cucu. Pallu kaloa yang diracik H. Wasid bersama tujuh anaknya memiliki ciri khas tersendiri. Kalau di rumah makan lain kuah sup dibumbuhi kelapa, di tempat ini sebaliknya, tidak menggunakan kelapa sama sekali. Kuah sup hanya mengandalkan cita rasa asam dari rempah kaloa yang dicampur asam Jawa dan gula merah.
   Resep yang  digunakan sudah turun-temurun diwariskan dari kakek makanya tidak akan sama dengan tempat lain. Apalagi ikan yang dipakai benar-benar dipilih dan tidak asal seperti kerapu, lamuru, katamba, kaneke, dan tuna yang hanya dipakai kepalanya. Sementara yang ingin mencicipi dagingnya, dipilihkan ikan tuna dan lamuru. Adapun untuk kuahnya menggunakan bumbu rempah yang terdiri atas lengkuas, sereh, bawang putih, bawang merah, kayu manis, pala, ketumbar, merica, dan kaloa.

Local Food 3



SOTO BETAWI




Soto Betawi adalah salah satu kuliner khas Jakarta yang banyak sekali peminatnya. Oleh karena itulah tidak mengherankan jika soto Betawi menjadi suguhan dalam banyak acara. Misalnya saja untuk acara besar seperti lebaran Idul Fitri, soto Betawi juga menjadi hidangan yang spesial. Mari kita ulas lebih jauh, mulai dari sejarah sampai resep soto Betawi yang begitu khas dan banyak penggemarnya ini.

Sejarah Soto Betawi
Soto Betawi, Via Instagram jajanbeken
Soto Betawi, Via Instagram jajanbeken
Mendengar namanya, mungkin sebagian besar dari kita semua bakal berpikiran jika kuliner ini diciptakan oleh orang Betawi. Tapi ternyata orang pertama yang mempopulerkan soto Betawi merupakan keturunan Tionghoa bernama Lie Boen Po yang merupakan penjual soto di THR Lokasari atatu Prinsen Park. Isilah soto Betawi ini hadir memperkaya kuliner Indonesia sekitar tahun 1977-1978.

Soto Betawi dengan daging yang melimpah, Via Instagram kulineryogya
Soto Betawi dengan daging yang melimpah, Via Instagram kulineryogya
Pada tahun 1977-1978, memang banyak sekali orang-orang yang menjual soto Betawi dengan ciri khasnya masing-masing. Namun belum banyak orang yang menamakan kuliner tersebut dengan soto Betawi, kebanyakan dari penjual menyebutkan soto kaki Pak X atau yang lainnya. Nah, selanjutnya nama Soto Betawi mulai tersebar setelah penjual soto tersebut tutup sekitaran tahun 1991 yang lalu.

Resep Soto Betawi
Soto Betawi dengan kuah kental, Via Instagram aristamontana
Soto Betawi dengan kuah kental, Via Instagram aristamontana
Biasanya, dalam seporsi soto Betawi akan ada jeroan, organ-organ lainya. Lalu untuk kuahnya ada campuran santan dan susu yang membuat rasanya sangat khas. Ditambah dengan kerupuk emping yang membuat rasanya makin enak. Buat kamu yang ingin mencoba membuat soto Betawi di rumah, berikut ini akan dijabarkan resepnya.

Bahan-bahan yang diperlukan
500 gram daging sapi, bisa dipotong sesuka hati
300 gram tulang sapi untuk kaldu
300 gram paru sapi
200 ml santan kental
250 ml susu cair full cream
air secukupnya
kaldu bubuk
minyak goreng
3 batang daun bawang
3 batang seledri
Bumbu Halus
Soto Betawi yang sangat menggugah selera, Via Instagram novelia_johan
Soto Betawi yang sangat menggugah selera, Via Instagram novelia_johan
1 sendok makan lada
1/2 sendok teh jinten
1 sendok teh ketumbar
1/2 biji pala
3 butir kemiri
4 siung bawang putih
5 siung bawang merah
garam secukupnya
gula atau penyedap rasa jika berkenan
Bahan-bahan pelengkap
kentang goreng
tomat
irisan daun bawang
jeruk limau
acar mentimun
bawang goreng
emping goreng
dan kecap manis

Langkah-langkah membuatnya
Tumislah bumbu halus hingga matang, tiriskan sebentar.
Didihkan air lalu masukkan tulang, daging, jahe, dan juga lengkuas, rebus sampai daging empuk.
Tiriskan daging, dan olah paru sapi.
Masukkan tumisan bumbu halus, santan kental, susu segar ke dalam air kaldu.
Masukkan daun bawang dan seledri sampai sedikit layu.
Masukan daging sapi dan juga jeroan hingga matang lalu angkat.
Hidangkan bersama nasi hangat dan bahan-bahan pelengkap lalu sajikan.


RENDANG




Sejarah Rendang
Rendang merupakan masakan yang kaya rempah dengan daging sebagai bahan dasarnya. Rendang juga menggunakan karambia (santan kelapa) dan campuran bumbu khas yang dihaluskan seperti cabai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang, dan bumbu-bumbu lainnya. Keunikan rendang adalah bumbu alami yang digunakan memiliki sifat antiseptik, sehingga bisa berguna sebagai pengawet alami. Bumbu lain juga diketahui punya aktivitas antimikroba yang kuat, dan tidak heran jika rendang bisa bertahan berbulan-bulan. Untuk pemasakan rendang hingga kuah benar-benar kering, prosesnya akan menghabiskan waktu sekitar delapan jam.

Penelusuran tentang sejarah rendang akan membawa kita ke salah satu daerah di Sumatera bagian barat, yaitu Minangkabau. Bagi masyarakat Minang, rendang sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan kuliner mereka sejak jaman nenek moyang mereka. Untuk sejarah kapan pertama kali rendang diciptakan sendiri, sayangnya tidak banyak bukti tertulis yang dapat ditemukan. Salah satu dugaan yang muncul di kalangan para peneliti adalah bahwa panganan ini telah muncul sejak orang Minang mengadakan acara adat mereka untuk pertama kalinya. Awal mula sejarah rendang khas Padang ini terdengar dimana-mana mungkin terjadi karena seni memasak ini terus berkembang dari Riau, Mandailing, Jambi, bahkan hingga ke Negeri Sembilan yang merupakan negara bagian federasi Malaysia karena perantau Minang yang tinggal di sana.

Catatan tentang rendang sebagai makanan tradisional dari daerah Minangkabau ditemukan pada awal abad ke-19, namun Gusti Anan, seorang sejarawan dari Universitas Andalas di Padang memiliki dugaan bahwa rendang sudah mulai muncul sejak abad ke-16. Hal ini ia simpulkan dari catatan literatur abad ke-19 dimana tertulis bahwa masyarakat Minang darat sering bepergian menuju Selat Malaka hingga Singapura. Perjalanan tersebut mereka lalui dengan jalur air dan bisa memakan waktu kurang lebih sekitar satu bulan. Mengingat tidak adanya perkampungan di sepanjang perjalanan itu, para perantau ini pasti sudah menyiapkan bekal makanan yang akan tahan hingga waktu yang lama, dan makanan itu adalah rendang. Gusti juga menduga bahwa pembukaan kampung baru di pantai timur Sumatera hingga Singapura, Malaka, dan Malaysia oleh masyarakat Minang pada abad ke-16 juga sudah mengikutsertakan rendang sebagai makanan mereka karena perjalanan tersebut butuh waktu berbulan-bulan.

Selain dari catatan sejarah, sejarah masakan rendang khas Padang juga dapat ditemukan dalam catatan harian Kolonel Stuers yang pada tahun 1827 menulis tentang kuliner dan sastra. Di dalam catatan tersebut sering kali muncul secara implisit deskripsi kuliner yang diduga mengarah pada rendang dan tertulis istilah makanan yang dihitamkan dan dihanguskan. Hal ini, menurut Gusti, adalah salah satu metode pengawetan yang biasa dilakukan oleh masyarakat minang. Rendang sendiri berasal dari kata “merandang,” yaitu untuk memasak santan hingga kering secara perlahan hal ini cocok dengan rendang yang memang butuh waktu lama untuk dimasak hingga kuahnya kering.

Sejarah rendang juga tidak lepas dengan kedatangan orang-orang dari Arab dan India di kawasan pantai barat Sumatera. Dipercaya bahwa pada abad ke-14, sudah banyak orang-orang India yang tinggal di daerah Minang, dan bumbu serta rempah-rempah sudah diperkenalkan oleh orang-orang tersebut. Ada juga dugaan yang mengatakan bahwa masakan kari yang sudah menjadi makanan khas India dan diperkenalkan pada abad ke-15 di daerah Minang merupakan dasar dari rendang itu sendiri. Hal ini sangat mungkin mengingat adanya kontrak perdagangan dengan India pada masa itu. Ahli waris tahta kerajaan Paguruyung juga membuka adanya kemungkinan bahwa rendang merupakan kari yang diproses lebih lanjut. Yang membuatnya berbeda adalah rendang memiliki sifat yang lebih kering, sehingga bisa jauh lebih awet jika dibandingkan dengan kari.

Masakan rendang khas Padang tetap tidak mati hingga sekarang, bahkan menjadi semakin terkenal dengan menjamurnya warung makan Padang di setiap sudut kota di Nusantara. Meski dikenal dengan bentuknya yang terbuat dari daging, ternyata banyak juga variasi rendang lainnya seperti rendang ayam, bebek, hati, telur, paru, dan ikan tongkol. Selain itu ada juga rendang suir yang berasal dari Payakumbuh. Yang membedakan rendang suir dengan rendang biasa adalah daging ayam atau sapi yang digunakan, serat dagingnya akan disuir kecil-kecil.

Filosofi Rendang
Makanan rendang khas Padang sebagai masakan tradisional memiliki posisi yang terhormat dalam hidup bermasyarakat di Minangkabau. Hal ini dikarenakan bahan-bahan pembuat rendang memiliki makna sendiri-sendiri. Bahan pertama yaitu dagiang atau daging sapi yang juga merupakan bahan utama melambangkan niniak mamak dan bundo kanduang, dimana mereka akan memberi kemakmuran pada anak pisang dan anak kemenakan. Bahan kedua adalah karambia atau kelapa, yang melambangkan kaum intelektual atau yang dalam bahasa Minang disebut Cadiak Pandai, dimana mereka merekatkan kebersamaan kelompok maupun individu. Yang ketiga adalah Lado atau sambal sebagai lambang alim ulama yang tegas dan pedas dalam mengajarkan agama. Bahan terakhir adalah pemasak atau bumbu, yang melambangkan setiap individu dimana masing-masing individu memiliki peran sendiri-sendiri untuk memajukan hidup berkelompok dan adalah unsur terpenting dalam hidup bermasyarakat masyarakat Minang.

Bahan Utama Untuk Membuat Resep Daging Rendang Asli Padang:

1.5 kg daging
2 liter santan dari 2 butir kelapa tua
Bumbu dan Rempah Untuk Membuat Rendang Minang Asli:
2 batang daun serai, memarkan
4 lembar daun jeruk purut
2 cm asam kandis/gelugur
2 lembar daun kunyit, simpulkan
Bumbu Resep Rendang Padang Asli Minang yang harus kamu Dihaluskan:

5 butir kemiri
6 siung bawang putih
100 g cabe merah besar
12 butir bawang merah
100 g cabe merah keriting
2 cm jahe, bakar
2 cm lengkuas
3 cm kunyit, bakar
1/2 sdm ketumbar
2 sdt garam
1/2 sdt pala
1 sdt jintan, sangrai
Penyedap rasa secukupnya
Cara Mengolah Resep Rendang Padang Asli khas Minang:
Pertama tama olah daging yang sudah disiapkan, potong-potong daging rendang dengan bentuk dadu atau seukuran yang diinginkan, hanya saja jangan pernah memotong daging terlalu kecil untuk diolah menjadi rendang agar saat dimasak nanti daging tidak hancur.

Tuangkan santan ke wajan berukuran besar, masukkan pula serai, irisan bawang merah, asam dan daun kunyit. Aduk-aduk hingga santan mendidih dan pastikan santan yang anda masak tidak pecah, untuk itu Anda harus terus mengaduk-aduk santan hingga mendidih merata.

Setelah santan mendidih, masukkan perlahan bumbu yang telah dihaluskan kedalamnya dan sesekali aduk-aduk selama kurang lebih 20 – 30 menit.

Setelah anda melihat santan tampak berminyak, berarti ini saatnya kamu memasukan potongan daging rendang yang telah dibersihkan dan masak dengan menggunakan api kecil/sedang hingga santan mengental dan mengering serta bumbu meresap ke pori pori daging.

Terus masak hingga daging empuk dan matang merata, jangan lengah untuk terus diaduk-aduk agar bagian dasar tidak gosong dan daging tidak gagal.

Local Food 2


PINDANG PATIN



Pindang ikan adalah masakan berkuah yang dikenal sebagai ikon kuliner Sumatra Selatan. Sajian ini memiliki kemiripan dengan pangek masi di Ranah Minang, asam pedas dalam kuliner Melayu, gangan atau lempah dalam kuliner Bangka-Belitung, atau pindang serani di Tanah Jawa. Bahkan juga mirip dengan tom yam kung dari Thailand.  Di Sumatra Selatan sendiri ada berbagai versi masakan pindang, yaitu: pindang meranjat, pindang musi rawas, pindang pegagan, dan pindang Palembang. Masing-masing mempunyai ciri kedaerahan yang lebih khas.
Mereka yang suka masakan berbumbu intens mungkin akan cenderung menyukai pindang meranjat karena “tendangan” rasa calok atau trasi-nya, dan juga tingkat kepedasannya. Pindang pegagan lebih soft rasa trasi-nya. Pindang dari daerah Meranjat juga sering memakai ikan salai (ikan yang diasap) untuk memperkuat citarasanya. Sedangkan masakan pindang dari Palembang dan Musi Rawas tidak memakai trasi. Kedua gagrak yang terakhir ini lebih menonjol rasa asamnya, dan tidak seberapa pedas. Rasa asamnya sering dicapai dengan penggunaan cung kediro (tomat ceri) dan asam jawa. Pindang dari Palembang juga menggunakan lebih banyak daun kemangi untuk membuatnya harum.
Di daerah Sumatra Selatan, hampir semua masakan pindang dibuat dari ikan. Yang paling populer adalah ikan patin dan ikan baung. Di masa lalu, ikan belida pun banyak dimasak pindang, ketika jenis ikan ini masih banyak dijumpai dan harganya belum melenting jauh. Di masa kini, masakan pindang juga seringkali memakai tulang iga sapi – sesuai dengan perkembangan citarasa masyarakat. Ada juga masakan pindang yang kuahnya dikentalkan dengan tempoyak (durian yang difermentasikan dengan sedikit garam selama beberapa hari).

Bahan-bahan
- 2 ekor ikan patin ukuran sedang, potong menjadi empat bagian

- 750 ml air

- 100 gr nanas, potong dadu

- 2 ruas jari lengkuas, memarkan

- 1 batang serai yang telah dimemarkan

- 3 lbr daun salam

- 2 lbr daun kunyit

- 3 batang daun kemangi

- 1 batang daun bawang, iris-iris

- 4 sdt air asam jawa

- 2 sdt garam

- 6 siung bawang merah

- 1 buah tomat ukuran sedang, potong-potong

- 5 buah cabai keriting

- 3 siung bawang putih

- 1 sdm terasi matang

Cara Membuat
- Giling bumbu halus berupa  cabai keriting, terasi, bawang putih, tomat, dan bawang merah, sisihkan dahulu.

- Tumis bumbu pindang patin bersamaan dengan nanas potong, tuang air asam jawa, tambahkan air ketika bumbu sudah harum dan matang.

- Masukkan serai, daun kunyit, daun salam, dan lengkuas, didihkan kembali.

- Masukkan ikan patin ke dalamnya, tambahkan garam, aduk hingga bumbu pindang meresap ke dalam patin.

- Tambahkan daun kemangi dan cincangan daun bawang, aduk hingga merata, masak sampai ikan patin matang.

KUE PADAMARAN



Kue yang hijau cantik ini hanya ada di bulan ramadan. Teksturnya lembut dengan rasa manis, cocok dinikmati sebagai sajian berbuka puasa.

Tekstur kue ini kenyal lembut seperti bubur. Bentuknya kecil pas buat sajian buka puasa. Kue Padamaran ini ada di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Provinsi Jambi. Tergolong kue unik yang hanya ada saat dibulan ramadan tiba. Memiliki citarasa yang sangat manis, kue Padamaran telah menjadi menu pilihan masyarakat Jambi saat bulan puasa.

Mencari kue ini pun juga sangat mudah, di bulan Ramadan, setiap para pedagang takjil selalu menyediakan makanan ringan ini sebagai menu andalan mereka. Selain kue Padamaran, ada juga kue Muso yang juga tersedia hanya di bulan ramadan.
Namun, tak hanya mudah ditemui saat bulan Ramadhan, kue legit ini biasanya akan dihidangkan sebagai menu camilan lezat di acara-acara besar, seperti acara pernikahan, keluarga, atau acara-acara adat lainnya.

Cara pembuatan kue padamaran terbilang cukup mudah, campuran tepung beras, santan, gula merah dan sari daun suji yang telah diaduk merata akan dituang ke dalam takir, yakni wadah berbentuk kotak kecil yang terbuat dari anyaman daun pandan.

Setelah itu, kue padamaran akan dikukus hingga matang. Untuk menambah cita rasa, umumnya warga Jambi akan membubuhkan sedikit gula merah dan gula pasir di bagian permukan kue padamaran, lalu dikukus kembali hingga gula mencair.
Dengan teksturnya yang lembut dan lumer di mulut, kue padamaran sangat cocok dijadikan menu berbuka puasa. Ukurannya pun juga tidak terlalu besar, sehingga tidak akan membuat kamu kekenyangan saat menyantapnya.

Selain disantap langsung, warga Jambi biasanya akan memadukan kue padamaran yang creamy dengan segelas teh hangat.

Bahan :
150 garam tepung beras
450 ml santan encer
75 ml santan kental, usahakan santan murni dari kelapa
75 grm gula merah, sisir halus
50 ml air perasan daun suji
1 sdt pandan pasta (campurkan dengan air perasan daun suji di atas)
1/4 sdt garam halus
Daun pisang secukupnya, untuk membuat mangkuk takir
Cara Membuat :
Pertama, kita buat adonan dengan cara memasak larutan santan encer dengan tepung beras, kemudian tambahkan pasta pandan, air daun suji dan sedikit garam, tunggu hingga mendidih dan meletup-letup, angkat dan dinginkan
Kedua, kita buat takir, atau mangkuk kecil dari bahan daun pisang berbentuk kotak persegi, kemudian di semat menggunakan lidi, (bisa diganti kalau tidak ada daun pisang)
Selanjutnya masukan 2 sdm adonan kue ke dalam takir, kemudian taburi atasnya dengan irisan gula merah 1 sdm saja, lalu tambah lagi adonan di atasnya 1 sdm, lakukan sampai habis
Terakhir, kita kukus adonan kue ini kurang lebih 5 menit saja, lalu beri siraman santan kental masing-masing 1 sdm saja, dan kukus lagi sampai matang biasanya 5 menit
Angkat kue, dan siap disajikan.

Local Food 1


RENDANG



Rendang atau randang (Jawi: رندڠ) adalah masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam) hingga kering dan berwarna hitam pekat. Dalam suhu ruangan, rendang dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Rendang yang dimasak dalam waktu yang lebih singkat dan santannya belum mengering disebut kalio, berwarna coklat terang keemasan.
Rendang dapat dijumpai di Rumah Makan Padang di seluruh dunia. Masakan ini populer di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand. Di daerah asalnya, Minangkabau, rendang disajikan di berbagai upacara adat dan perhelatan istimewa. Meskipun rendang merupakan masakan tradisional Minangkabau, masing-masing daerah di Minangkabau memiliki teknik memasak serta pilihan dan penggunaan bumbu yang berbeda.
Pada tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai hidangan yang menduduki peringkat pertama daftar World's 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) versi CNN International.
Rendang juga dimanfaat sebagai bantuan pangan bagi korban bencana alam karena tahan lama dan kandungan gizinya, seperti pada gempa bumi Lombok 2018, gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018, dan tsunami Selat Sunda 2018.

Kandungan bahan dan cara memasak
Rendang adalah masakan yang mengandung bumbu rempah yang kaya. Selain bahan dasar daging, rendang menggunakan santan kelapa (karambia), dan campuran dari berbagai bumbu khas yang dihaluskan di antaranya cabai (lado), serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah dan aneka bumbu lainnya yang biasanya disebut sebagai pemasak. Keunikan rendang adalah penggunaan bumbu-bumbu alami, yang bersifat antiseptik dan membunuh bakteri patogen sehingga bersifat sebagai bahan pengawet alami. Bawang putih, bawang merah, jahe, dan lengkuas diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang kuat. Tidak mengherankan jika rendang dapat disimpan satu minggu hingga empat minggu.

Proses memasak rendang asli dapat menghabiskan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam), karena itulah memasak rendang memerlukan waktu dan kesabaran. Potongan daging dimasak bersama bumbu dan santan dalam panas api yang tepat, diaduk pelan-pelan hingga santan dan bumbu terserap daging. Setelah mendidih, apinya dikecilkan dan terus diaduk hingga santan mengental dan menjadi kering. Memasak rendang harus sabar dan telaten ditunggui, senantiasa dengan hati-hati dibolak-balik agar santan mengering dan bumbu terserap sempurna, tanpa menghanguskan atau menghancurkan daging. Proses memasak ini dikenal dalam seni kuliner modern dengan istilah 'karamelisasi'. Karena menggunakan banyak jenis bumbu, rendang dikenal memiliki citarasa yang kompleks dan unik.

Makna budaya
Rendang adalah salah satu hidangan hantaran dalam upacara adat Minang.
Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatra Barat, yaitu musyawarah dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang, yaitu:
Dagiang (daging sapi), merupakan lambang dari "Niniak Mamak" (para pemimpin Suku adat)
Karambia (kelapa), merupakan lambang "Cadiak Pandai" (kaum Intelektual)
Lado (cabai), merupakan lambang "Alim Ulama" yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat agama
Pemasak (bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.
Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap seremoni adat, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.
Dalam tradisi Melayu, baik di Riau, Jambi, Bengkulu, Palembang, Lampung, Medan atau Semenanjung Malaya, rendang adalah hidangan istimewa yang dihidangkan dalam kenduri khitanan, ulang tahun, pernikahan, barzanji, atau perhelatan keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban.

Sejarah
Rumah Makan Padang mempopulerkan rendang ke seluruh penjuru Nusantara.
Asal usul rendang ditelusuri berasal dari Sumatra, khususnya Minangkabau. Bagi masyarakat Minang, rendang sudah ada sejak dahulu dan telah menjadi masakan tradisi yang dihidangkan dalam berbagai acara adat dan hidangan keseharian. Sebagai masakan tradisi, rendang diduga telah lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya. Kemudian seni memasak ini berkembang ke kawasan serantau berbudaya Melayu lainnya; mulai dari Mandailing, Riau, Jambi, hingga ke negeri seberang di Negeri Sembilan yang banyak dihuni perantau asal Minangkabau. Karena itulah rendang dikenal luas baik di Sumatra dan Semenanjung Malaya.
Sejarawan Universitas Andalas, Prof. Dr. Gusti Asnan menduga, rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas sejak orang Minang mulai merantau dan berlayar ke Malaka untuk berdagang pada awal abad ke-16. “Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal.” Hal ini karena rendang kering sangat awet, tahan disimpan hingga berbulan lamanya, sehingga tepat dijadikan bekal kala merantau atau dalam perjalanan niaga.
Rendang juga disebut dalam kesusastraan Melayu klasik seperti Hikayat Amir Hamzah yang membuktikan bahwa rendang sudah dikenal dalam seni masakan Melayu sejak 1550-an (pertengahan abad ke-16).
10:4 ... Buzurjumhur Hakim pun pergi pula ke kedai orang merendang daging kambing, lalu ia berkata: "Beri apalah daging kambing
10:7 ... kambing rendang ini barang segumpal." Sahut orang merendang itu, "Berilah harganya dahulu." Maka kata Khoja Buzurjumhur,
— Hikayat Amir Hamzah.
Kelahiran rendang tak luput dari pengaruh beberapa negara, misalnya bumbu-bumbu dari India yang diperoleh melalui para pedagang Gujarat, India. Karena diaduk terus-menerus, rendang identik dengan warna hitam dan tidak memiliki kuah.
Rendang kian masyhur dan tersebar luas jauh melampaui wilayah aslinya berkat budaya merantau suku Minangkabau. Orang Minang yang pergi merantau selain bekerja sebagai pegawai atau berniaga, banyak di antara mereka berwirausaha membuka Rumah Makan Padang di seantero Nusantara, bahkan meluas ke negara tetangga hingga Eropa dan Amerika. Rumah makan inilah yang memperkenalkan rendang serta hidangan Minangkabau lainnya secara meluas. Ketenaran rendang telah membuatnya rendang dinobatkan sebagai hidangan yang menduduki peringkat pertama daftar World's 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) versi CNN International tahun 2011.
Selain pada acara adat, rendang juga menjadi pilihan menu saat mengolah daging kurban yang melimpah saat hari raya Idul Adha. Rendang juga menjadi makanan yang disajikan khusus untuk hari raya Idul Fitri. Rendang juga telah menjadi salah satu pilihan barang bantuan yang dikirimkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat sebagai bantuan pangan bagi korban bencana di daerah lain. Hal ini pertama kali dilakukan pada tahun 2016 saat terjadi gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh dan dilakukan pula pada gempa bumi Lombok 2018.

Jenis
Rendang disajikan bersama daun singkong, telur dadar, dan kuah gulai dalam sajian Nasi Ramas Padang.
Dalam memasak daging berbumbu dalam kuah santan, jika ditinjau dari kandungan cairan santan, sebenarnya terdapat tiga tingkat tahapan, mulai dari yang terbasah berkuah hingga yang terkering: Gulai — Kalio — Rendang. Dari pengertian ini rendang sejati adalah rendang yang paling rendah kandungan cairannya. Akan tetapi secara umum dikenal ada dua macam jenis rendang: rendang kering dan basah.

Rendang kering
Rendang kering adalah rendang sejati dalam tradisi memasak Minang. Rendang ini dimasak dalam waktu berjam-jam lamanya hingga santan mengering dan bumbu terserap sempurna. Rendang kering dihidangkan untuk perhelatan istimewa, seperti upacara adat, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan. Rendang kering biasanya berwarna lebih gelap agak coklat kehitaman. Jika dimasak dengan tepat, rendang kering dapat tahan disimpan dalam suhu ruangan selama tiga sampai empat minggu, bahkan dapat bertahan hingga lebih dari sebulan jika disimpan di kulkas, dan enam bulan jika dibekukan. Beberapa kalangan berpendapat bahwa citarasa rendang asli Minang adalah yang paling lezat dan tiada dua — jauh berbeda dengan rendang di sejumlah kawasan Melayu lainnya.

Rendang basah atau Kalio
Rendang di Belanda adalah kalio yang masih basah berkuah.
Rendang basah, atau lebih tepatnya disebut kalio, adalah rendang yang dimasak dalam waktu yang lebih singkat, santan belum begitu mengering sempurna, dan dalam suhu ruangan hanya dapat bertahan dalam waktu kurang dari satu minggu. Rendang basah berwarna coklat terang keemasan dan lebih pucat.
Rendang juga dikenal di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Rendang yang ditemukan di Malaysia lebih mirip kalio, berwarna lebih pucat dan basah dengan citarasa yang tidak begitu kuat. Rendang Malaysia yang disebut rendang kelantan dan rendang negeri sembilan memiliki perbedaan dengan rendang Indonesia. Proses memasak rendang di Malaysia, lebih singkat dan melakukan pengentalan bumbu dengan dicampur kerisik (kelapa parut yang disangrai), bukan dengan proses pemasakan dengan api kecil dalam waktu yang lama. Karena keterkaitan sejarah melalui kolonialisasi, rendang juga dapat ditemukan di Belanda, juga dalam bentuk kalio, tetapi umumnya disajikan sebagai salah satu bagian dari lauk-pauk Rijsttafel.

Variasi
Rendang hati sapi
Rendang umumnya menggunakan daging sapi, tetapi dikenal pula berbagai jenis bahan daging lainnya yang dimasak sesuai bumbu dan resep. Variasi rendang antara lain:
Rendang daging (Randang dagiang): rendang daging sapi, kerbau, kambing atau domba. Adalah jenis rendang yang paling lazim ditemukan.
Rendang ayam: Rendang yang terbuat dari daging ayam
Rendang bebek (Randang itiak): Rendang yang terbuat dari daging bebek
Rendang hati: Rendang yang terbuat dari hati sapi
Rendang telur (Randang talua): Rendang yang terbuat dari telur ayam dengan bentuk yang lebih menyerupai keripik, khas Payakumbuh
Rendang paru: Rendang yang terbuat dari paru-paru sapi, khas Payakumbuh
Rendang ikan tongkol: Rendang yang terbuat dari ikan tongkol
Rendang suir (Randang runtiah): Rendang khas Payakumbuh yang dibuat dari daging ayam atau sapi yang serat dagingnya disuir atau diurai kecil-kecil. Rendang suir mirip abon, akan perbedaannya adalah serat dagingnya lebih besar dan bumbu rendang keringnya yang khas.
Rendang kerang (Randang Lokan): merupakan varian rendang yang terbuat dari kerang, khas dari daerah pesisir seperti Pesisir Selatan dan Pariaman.
Rendang pensi: rendang khas Danau Maninjau, Kabupaten Agam, yang terbuat dari pensi (kerang air tawar yang berukuran kecil).





MEUSEUKAT



Meuseukat adalah Penganan khas Aceh sejenis dodol dikarenakan tekstur yang lembut dan rasanya manis. Rasa manis ini didapat dari buah nanas yang digunakan dalam pembuatannya sehingga kue ini disebut juga dodol nanas. Warna kue ini adalaha putih karena hanya menggunakan tepung terigu tanpa pewarna makanan. Adapun warnanya yang kuning dikarenakan buah nanas yang digunakan sebagai campuran.

Filosofi
Seperti halnya makanan dari daerah lain, Meuseukat ini juga memiliki filosofi tersendiri yang kemudian menempatkannya dalam kasta tertinggi kue tradisional khas Aceh. Dalam memperlakukan tamu masyarakat Aceh dikenal dengan kesopanannya yang tinggi. Tidak hanya dari perilakunya tetapi juga dari penyajian makanannya. Warna putih kue inilah yang kemudian diartikan sebagai kejernihan hati masyarakat Aceh saat menyambut tamu.

Penyajian
Berdasarkan makna filosofi diatas maka penyajian kue ini hanya dihadirkan pada saat-saat tertentu. Yang paling utama adalah Penyambutan tamu. Selain itu pernikahan juga tidak lepas dari kehadiran panganan ini yaitu sebagai hantaran. Kue ini juga bisa didapati pada perayaan hari raya besar seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyambut keluarga dan handai taulan yang bersilaturahmi.

Cara Pembuatan
Membuat meuseukat sama saja seperti membuat dodol, Membuat Meuseukat membutuhkan waktu lama dan ketelatenan.

Ketika membuat adonan, sebelum ditambahkan gula, tepung terlebih dahulu dimasak dengan air putih dan air jeruk dan nanas. Jeruk dan nanas sebaiknya disaring menghindari adanya serat dalam adonan kue. Kemudian tambahkan mentega dan tepung dalam air gula. Lalu, diaduk menggunakan sendok kayu dengan api kecil hingga adonan matang. Setelah matang, kue dimasukkan wadah rata dan diberi alas plastik, fungsinya untuk mencegah supaya kue Meuseukat tidak lengket dan mudah ketika dipotong.

Terminologi Indonesian Food


  1. Dojang Nakeng

     



Dojang Nakeng yaitu makanan laut yang berasal dari flores di kota ruteng 140 km ke daratan, makanan ini disajikan dengan menggunakan mint.

    2. Rujak Mie






Rujak asal Palembang ini memakai kuah cuka dan gula merah. Isiannya lengkap mulai dari mie kuning, suun, dan tauge. Rujak mie dari Palembang menggunakan mie kuning basah dan suun sebagai bahan utamanya. Pelengkap lainnya berupa tahu, tauge yang sudah diseduh air panas dan mentimun. Kuahnya dibuat dari rebusan air, gula merah, cuka, dan bumbu halus yang terdiri dari cabai rawit merah, bawang putih, ebi, dan garam. Taburannya berupa bawang merah goreng dan kerupuk mie yang renyah gurih. Ada yang mengatakan rujak mie adalah modifikasi dari pempek karena warga Palembang tak bisa jauh dari panganan berbahan ikan ini. Pempek dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan dalam isian rujak. Meski tidak dibuat dari buah dan sayuran segar, nama rujak pada hidangan ini agaknya menggambarkan sensasi segar saat menyantapnya. Biasanya rujak mie dinikmati sebagai camilan pada sore hari. Selain pempek, ada yang memilih menambahkan tahu putih goreng ke dalam racikan rujak. Rasanya tak kalah enak karena ada sensasi lembut gurih dari tahu.

     3. Soto Banjar






Soto Banjar adalah soto khas suku Banjar, Kalimantan Selatan dengan bahan utama ayam dan beraroma harum rempah-rempah seperti kayu manis, biji pala, dan cengkih. Soto berisi daging ayam yang sudah disuwir-suwir, dengan tambahan perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat. Seperti halnya soto ayam, bumbu soto Banjar berupa bawang merah, bawang putih dan merica, tetapi tidak memakai kunyit. Bumbu ditumis lebih dulu dengan sedikit minyak goreng atau minyak samin hingga harum sebelum dimasukkan ke dalam kuah rebusan ayam. Rempah-rempah nantinya diangkat agar tidak ikut masuk ke dalam mangkuk sewaktu dihidangkan.

    4. Ikan Cuka






Nama masakan Padang yang boleh dibilang langka ini adalah masakan Ikan Cuka atau Ikan Cuko biasa disebut seperti itu, merupakan sebuah paduan Ikan Sisiak sejenis Ikan Tuna kecil yang ada di pasaran kota Padang, digoreng bumbu dan dipadu dengan bawang utuh, cabe utuh ditambah bumbu rempah kemudian ditambah dengan cuka asam sehingga menghasilkan hidangan nan gurih dan menyegarkan.

   5. Plecing Sayur






Plecing sayur adalah masakan khas Indonesia yang berasal dari Lombok. Plecing sayur terdiri dari kangkung yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin dan segar dengan sambal tomat, yang dibuat dari cabai rawit, garam, terasi dan tomat, dan kadangkala diberi tetesan jeruk limau. Sebagai pendamping Ayam taliwang, plecing kangkung biasanya disajikan dengan tambahan sayuran seperti taoge, kacang panjang, kacang tanah goreng, ataupun urap. Kangkung yang digunakan untuk masakan ini juga sangat khas, tidak seperti tanaman kangkung sayur yang misalnya lazim di Pulau Jawa, tetapi berupa kangkung air yang biasanya ditanam di sungai yang mengalir dengan metode tertentu, yang menghasilkan kangkung dengan batangan besar yang renyah.

     6. Rendang






Rendang atau randang adalah masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam) hingga kering dan berwarna hitam pekat. Dalam suhu ruangan, rendang dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Rendang yang dimasak dalam waktu yang lebih singkat dan santannya belum mengering disebut kalio, berwarna coklat terang keemasan. Rendang dapat dijumpai di Rumah Makan Padang di seluruh dunia. Masakan ini populer di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand. Di daerah asalnya, Minangkabau, rendang disajikan di berbagai upacara adat dan perhelatan istimewa. Meskipun rendang merupakan masakan tradisional Minangkabau, masing-masing daerah di Minangkabau memiliki teknik memasak serta pilihan dan penggunaan bumbu yang berbeda.

     7.  Ayam Bakar Taliwang






Ayam Taliwang adalah makanan khas Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang berbahan dasar daging ayam. Daging ayam tersebut dibakar dengan bumbu cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam. Makanan ini biasanya disajikan bersama makanan khas Lombok yang lain, misalnya plecing kangkung.

      8. Doko - Doko Cangkuning






Doko - doko Cangkuning (Bugis) atau Roko-roko Cangkuning merupakan salah satu kue tradisonal Bugis yang sebenarnya sudah ada diseluruh nusantara, meski serupa namun pada dasarnya tidak sama. Di Jawa, kue ini dikenal dengan nama kue mendut, dibungkus dengan daun pisang muda dengan dilipat segiempat sedangkan di Sumatera, terutama Sumatera Barat, kue ini disebut dengan nama “lapek bugis” atau “lepat bugis”, dibungkus dengan daun pisang dan dilipat menyerupai piramida. Doko artinya bungkus yang diisi dengan adnonan bugis yang disebut cangkuning. Karena dibungkus lagi dengan daun, makanya dinamakan doko-doko cangkuning.

        9. Bubuh Injin




Bubuh Injin atau yang lebih dikenal dengan istilah bubur ketan hitam ini berasal dari Pulau Dewata. Kalau ditilik lebih seksama tak ada yang membedakannya dengan bubur ketan hitam biasanya. Mungkin hanya penamaannya saja yang berbeda di setiap daerah. Bubuh Injin ini terbuat dari beras ketan hitam yang dimasak dengan gula merah. Sebagai pelengkap biasanya saat penyajian diberikan areh atau kucuran santan kental yang telah dimasak dengan garam dan juga daun pandan agar wangi. Bubuh injin atau bubur injin biasanya disajikan saat di rumah masyarakat Bali ada keramaian, pesta atau kumpul warga. Agar terasa lebih segar, bubuh injin bisa juga disajikan dengan memberikan beberapa potong es batu sehingga rasanya jadi lebih segar. Tapi bubuh injin pun enak disajikan selagi hangat.

Event F.I.T.E


Beberapa minggu sebelumnya kami telah diberitahu bahwa pada tanggal 2-3 Mei 2019 kampus kami akan mengadakan event besar, yaitu F.I.T.E (Forum for International Tourism and The Environment). Dan prodi kami bertugas untuk membuat hidangan selama event tersebut berlangsung, mulai dari Lunch Box, Coffee Break, dan yang paling utama adalah Food Carnaval yang akan dilaksanakan pada tanggal 2 mei 2019. Untuk menu Food Carnaval sendiri, kami harus membuat 22 macam hidangan, seperti Lamb Roast, Sei Sapi, Bakso, Sate Kikil, Sushi, Sate Lilit, Ayam Bakar, Kari Seafood, Beef Lasagna, Beef Burger, Pizza, Rujak, Crepes, Corndog, Hotang, Sliced Fruit, Es Teler, Es Mambo, Nasi Putih, Nasi Goreng Ikan Asin, Roti Maryam dan aneka jenis Sambal.

Untuk menghandle event tersebut, semester 2, 4 dan 6 dibagi menjadi beberapa tim untuk menyelesaikan menu-menu yang telah ditentukan. Adapun menu yang dihandle oleh tim saya adalah Burger dan Roti Maryam . setelah itu saya membuat burger bun sekitar 300 lebih karna seperti informasi yang kami dengar poltekpar akan kedatangan tanu sebnyak 200 px karna kami takut tidak cukup makanya kami membuat banyak adonan dsni saya benar2 merasa sibuk heheh(soksibuk) dan juga saya sempat kena teguran keras bahkan sampai membuat mental saya sangat jatuh tapi aku sadar itu memang kesalahan saya yang lalai sumpah gaess capek banget ngerjain burger bun apalagi semester 2 disuruh pulang jadi sisa berapa orang saja sampai sampai aku ketiduran loh di depan oven nungguin rotinya saking kecapeannya. sumpah pengalaman yang sangat berharga hahaha tapi dsni juga saya terlatih kecepatan saat saat live cook di aula dengan beberapa dosen dan mahasiswa yg ingin mencoba crepes saya saya standby mulai dari pagi hingga sore sungguh lelah setelah sore semua section tutup dan benar2 luar biasa peminat crepes sangan vanym gengs sampai saya dan aisyah kewalahn tapi kami tutup untuk dan kamipun membersihkan tepat kerja kami dan kembali ke kitchen.

Daily activity 18


Hello guys welcome back to my blog Setelah sehari sebelumnya kami libur karena dilakukannya Pemilu di seluruh Indonesia, hari ini kami kembali melanjutkan praktik di kitchen.
Seperti biasa hari ini saya sudah pindah section di section dissert sebelum libur saya sudah mengecek dissert apa saja yang habis seprti tiramisu saya tidak membuat ulang tiramisu karena yang dri kelompok sebelumnya tiramisu masih banyak lain halnya dengan katiri mandi berhubung katiri mandi lebih enak di makn setelah dibuat dan saat itu hari juga katiri mandi sudah habis jafi saya membuat ulang katiri mandi saya hnya membutuhka  beras ketan,air hangat dan gula,santan untk membuat katirk mandi.untuk red velvet stok red velvet juga masih bnyak jadi semua bagian dissert selesai lanjut.

Saya membuat katiri mandi pertama saya cairkan gula merah dengan sedikit air setelah cair saya saring lalu saya masukkn gula cait ke dalam stock pot di tambah santan dan air lalu aduk rasakan manisnya.untk katiri salanga saya campur beras ketan dengan air hangat lalu saya bentuk dan saya blanch stelah di blanch saya masukkan beras ketan yang sudah di bentuk kedalm air gula dan aduk tunggu hingga mendidih dan dan matikan.lanjut saya mempalting semua dissert untuk di foto dan di persentasikan di office setelah semuanya selesai saya membersihka  area kerja dan ruagan pastry lalu bersiap2 plng.

video project 0.2

haii gaess kali ini gua bakalan bagiin kalian 1 konten video yang dimana menjelaskan ke kalian langkah langkah membuat bakpia soo check it...